Sinar mentari mulai memamerkan keelokan semburat cahayanya. Berhasil mengusik aku yang tengah nyaman tertidur di kasur kapuk ku. Tidak begitu empuk namun sangatlah nyaman. Mataku terbuka perlahan. Melihat jendela di depanku sudah dipenuhi oleh cahaya. Hari sudah siang. Namun aku yang merupakan gadis perawan ini baru saja terlelap dari tidurnya. Suatu hal yang gabisa dicontoh.
Aku lalu beranjak ke kamar mandi. Lantai bambu yang kuinjak selalu bersuara 'krrrrt' tapi tidak saat di kamar mandi. Karena letaknya di luar dan terpisah dari rumahku. Di zaman yang serba milenial ini, orang lain sudah punya rumah bak istana, dan kendaraan mewah. Lah aku? Rumah pun masih peninggalan nenek. Beratap genteng, berdinding kayu, dan berlantai bambu. Kendaraan? Sandal swallowlah kendaraan termewah ku.
Selesai mandi, bergegas aku berpakaian dan solat dhuha. Setelah itu membawa ubi rebus yang masih hangat (karena semalaman berada di atas tungku yang bara api nya masih nyala). Kubiarkan saja bara apinya menyala seperti biasa agar ubi nya hangat terus. Lalu aku berangkat ke tempat kerja. Letaknya sejauh mata memandang. Karena tidak bisa dilihat dari rumahku hehe. Gak kok, letaknya di samping mesjid sana. Paling cuma 30 meter dari rumah.
Setelah sampai disana, aku disambut oleh bawang dan kawan-kawan nya. Aku kupas satu per satu. Dan mencucinya.
"Eeh, ada kamu, wi" Kata seseorang yang sedang menyiapkan bumbu lainnya.
"Iyaniiih hehe" Kata ku masih dengan bawang-bawang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar