Setitik Sinar
Fifi Aprilia
Setelah membaca berhari-hari novel yang halamannya mencapai angka 400 itu, aku menangis ditonton ibu dan kakakku yang menertawakanku. Dalam hati, aku tersadar. Aku seperti dibangunkan kembali dari tidur dalam ruangan pengap yang menghimpitku. Cahaya itu kembali benderang menyelinap melalui balik tirai yang sedikit tersibak. Yepat mengenai lensa mataku. Membuatku bangun dan bertindak. Aku harus cepat bertindak. Sebelum kamar pengap ini membunuhku. Memikirkan banyak cara agar bisa keluar dari sana menghirup udara segar. Aku terus memikirkan caranya sambil melakukan rencana-rencana yang sudah menumpuk dalam kepalaku. Cahaya itu semakin benderang selagi aku terus berusaha. Dan aku percaya. Sangat percaya bahwa aku akan menghirup udara segar terbebas dari ruangan sempit yang pengap ini. Selalu ada jalan di setiap kebimbangan dan selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar