Inilah Hariku
Hari masih sangat gelap bagi seseorang untu membuka mata. Namun tidak bagia mereka yang hatinya terang. Di sepertiga malam ini, mereka telah terjaga membasuhkan air wudhu pada wajah mereka. Bersujud dihadapan sang pemilik semesta alam. Dia yang telah menghendaki adanya siang malam. Lantunan ayat suci terdengar lirih. Di kamar berukuran 3x4 meter itu. Dengan berbalut mukena putih, wanita itu dengan khidmat membaca ayat-ayat Allah.
Selesai solat tahajud, ia mencuci pakaian yang telah direndam sebelum wudhu, masak nasi lalu menyapu dan melipat pakaian. 15 menit lagi adzan subuh berkumandang. Ia segera mandi biarpun waktu masih menunjukkan pukul 4. Ia pun mendirikan solat subuh dengan khusuk. Selesai solat subuh, ia kembali mengaji. Meneruskan bacaan Al-Qur'an nya agar cepat khatam.
Setelah mengahabiskan 1 lembar, ia membuka buku. Kali ini buku pelajaran. Judulnya FISIKA DASAR karya Halliday, Resnick, dan Walker.
"Rabbi jidni 'ilman warzukni fahman"ucapnya sebelum mulai membaca. Ia membaca dari baris ke baris, hingga tak terasa sudah 9 lembar ia baca. Ia pun mengambil pensil untuk menguji kemampuannya. Ia mengerjakan soal yang ada disitu. Setelah 5 soal ia kerjakan, ia pun membuka hp. Mengecek wa, ig, dan menonton youtube.
Penyegaran memang perlu dilakukan agar otak tidak kaku. Setelah 15 menit berlalu, ia kembali tenggelam dalam bukunya. Kali ini buku berwarna biru berjudul kurikulum dan pembelajaran. Begitulah sampai 20 menit berlalu.
Ia pun sarapan. Lalu bersiap pergi ke kampus. Dengan kerudung coklat dan gamis yang serasi ia tersenyum pada cermin. Menyemprotkan parfum. Memakai kaos kaki, lalu beranjak ke pintu. Menguncinya dan melangkahkan kaki. Melaju menuju tempatnya menuntut ilmu.
Tas hitamnya selalu ada dipunggung. Isinya tidak jauh dari binder,alat tulis, mukena, tempat kacamata dan dompet. Kurang lebih 15 menit ia melaju diatas sepatunya. Ia kini tengah duduk di bangku chitos pada barisan paling depan.
" Hallo Sarah" sapanya kepada teman disampingnya.
"Oh, haii, sendirian aja?"
"Iya nih hehe"
Ia pun membuka ponselnya. Mencoba aplikasi yang baru diinstalnya semalam. Ia membaca artikel ilmiah dalam aplikasi tersebut. Sambil menuggu dosen masuk.
5 menit kemudian, dosenpun masuk dengan membawa laptop. Ia belajar dengan sangat serius, aktif, dan pemikirannya luas. Mungkin karena ia rajin membaca, setiap pertanyaannya selalu berbobot. Dan pendapatnya merupakan ide yang cemerlang.
Mata kuliah hari ini telah habis. Ia mengajak Sarah pergi ke mesjid untuk solat dzuhur.
"Ra, abis dzuhur mau kemana?" tanya Sarah.
"Pulang. Hehe"
"Anterin aku dulu yuk"
"Kemana?"
"Ke mall"
"Gamau ah, Rah"
"Loh, kenapa? Emang kamu ga bosen di kosan terus?"
"Engga tuh. Hehe"
"Aku tuh heran deh sama kamu. Menghabiskan waktu di kosan emang ga bosen ya? Kalo aku sih pasti gabut"
Fara terdiam sejenak. Ia menghembuskan nafasnya.
"Gini ya, Rah. Aku menghabiskan waktu di kosan itu untuk belajar. Hehehe"
"Dasar kamu. Belajaar terus"
"Biarin kan tujuan aku kesini buat belajar"
"Buat yang lain juga dong. Haha. Yuk ah, nanti keburu solat berjamaah"
Mereka pun solat berjamaah di msjid itu. Setelah itu, Fara membeli makan. Lalu pulang. Sementara Sarah, ia pergi ke mall untuk menonton film horor terbaru.
Sampai di kosan, seperti biasa Fara istirahat sejenak. Entah itu untuk menonton youtube ataupun berselancar di instagram. Baginya itu sesuatu yang menyenangkan dibandingkan pergi ke mall.
Ia selalu ingat kedua orang tuanya. Yang ia tinggal di kampung dengan segala keterbatasan yang ada. Ayahnya hanyalah seorang buruh tani. Bukan sebagai petani. Tapi buruh tani. Penghasilan untuk sehari-hari saja susah. Apalagi untuk menguliahkan Fara di sebuah universitas negeri.
Tapi Fara punya mimpi. Mimpi itu yang menggerakkan Fara untuk terus berjuang melawan arus. Banyak hambatan yang harus ia tempuh untuk menduduki bangku perkuliahan itu. Tapi Fara selalu punya cara untuk melewatinya.
Ketika ia tidak punya biaya untuk kuliah, ia cari beasiswa. Dan akhirnya ia dapatkan beasiswa bidikmisi. Suatu kebahagiaan bagi Fara dan orang tuanya. Seorang buruh tani yang bisa menguliahkan anakna. Merupakan kebanggaan tersendiri bagi orang tuanya.
Inilah alasan mengapa Farah memilih lebih nyaman di kosan. Ia berhemat. Karena pemasukannya hanya dari beasiswa. Ia tidak pernah berpikir untuk meminta apapun kepada orang tuanya. Yang ia pikir hanyalah apa yang bisa beri untuk orang tuanya yang kekurangan. Sedangkan ia sendiri pun belum berpenghasilan.
Kebanggaan. Itulah yang harus ia berikan pada orang tuanya. Menjadi anak yang baik, cerdas, berguna bagi keluarga, nusa, bangsa, dan agama. Karena tujuan ia datang kesini adalah untuk belajar. Dan pulang membawa kesuksesan.
Selain itu, alasan lain mengapa Fara senang berdiam diri di kosan adalah karena sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita solehah. Dan wanita solehah yaitu wanita pemalu, pemalu dalam artian disini adalah malu terhadap lawan jenis. Yang jika berpapasan dengan lawan jenis ia menunduk. Selain itu, wanita sebaiknya diam di rumah. Karena ketika wanita keluar rumah setan menghiasinya.
"Inilah hariku. Hari dimana aku menghabiskan waktu hanya untuk Allah dan orang tua" gumam Fara setelah merenungi perkataan Sarah tadi siang.
Typonya tolong dikondisikan
BalasHapus