Sunrise
Fifi Aprilia
Pagi-pagi sekali aku mandi. Segera menyiapkan segala keperluan untuk bekerja. Seperti kamera, tripod, dan segala macam lensa yang selalu berada dalam tas ku. Hari ini tidak boleh ketinggalan lagi. Setelah kemarin ketinggalan moment sunrise yang amat luar biasa, hanya karena aku mengalami gangguan pencernaan sehingga aku lama berada di wc. Ketika aku keluar dari wc, matahari sudah tergelincir beberapa derajat dari ufuk timur. Dan aku gagal mendapatkan moment sunrise.
"Hari ini tidak boleh gagal lagi"
Dengan sepatu hitamku aku segera bergegas meninggalkan ibu yang sedang duduk diatas hamparan sajadah. Berbalut mukena biru. Al-Qur'an berada dalam genggamannya. Mulutnya melafalkan bacaan didalamnya.
"Ibuu, aku berangkat" pamitku sambil menarik pintu hendak keluar.
"Sudah subuh beluum?" tanyanya setengah berteriak.
Aku hanya menjawabnya dengan suara pintu yang tertutup sempurna.
"Bagaimana mau subuh, wong aku harus mendapatkan moment terbaik sunrise pagi ini" batinku.
Jalan setapak didepanku masih basah oleh embun. Jalan itu licin. Aku mengambil tongkat kayu untuk dijadikan peganganku sampai ke puncak bukit ini. Dari sini aku bisa mengambil moment sunrise yang terbaik.
Selama perjalanan, sesekali aku mengambil gambar objek yang menurutku menarik. Seperti halnya bunga dari rumput liar, sarang burung, embun yang hendak menetes dari daun, dan masih banyak lagi. Suasana masih agak gelap. Tapi ini tak menyulitkanku untuk tetap berjalan menuju puncak bukit demi moment sunrise terbaik.
Menjelang puncak, jalanan semakin licin. Mungkin ini karena pengaruh hujan tadi malam. Hujan di daerahku memang relatif tinggi. Sehingga tak heran jika orang-orang memilih menetap dirumah dari pada harus berpergian. Alasan nya satu. Hujan.
"Huuft. Akhirnya sampai juga. Bagus banget lagi. Ganyesel dah aku buru buru kesini"
Keringat sedikit mengucur di dahi ku. Aku tidak mengelapnya. Kubiarkan saja keringat itu sampai terkena sinar mentari. Aku segera menyiapkan tripod, kamera dengan lensa yang tepat, dan tentunya yang paling penting yaitu objek yang akan di ambil gambar nya.
"Hmm dimana ya?" aku berdiri sambil memegang dagu. Berpikir keras, menimbang dimana sudut yang paling bagus untuk mengambil moment sunrise pagi ini. Aku berpikir cepat. Terlalu lama berpikir akan membuatku ketinggalan moment sunrise lagi. Tidak aku tidak mau itu terjadi lagi. Biar bagaimana pun pagi ini aku harus mendapat moment luar biasa itu.
Akhirnya kuputuskan untuk mengambil sudut tepat didepan matahari. Semburat oranye sudah mulai menampakkan keanggunannya. Aku segera mengotak-atik kameraku untuk merekamnya. Tadinya aku hanya ingin mengambil gambarnya saja. Tapi setelah dipikir-pikir, video akan lebih bagus.
Setelah beres degan kameraku, aku melirik jam di tanganku. Pukul 05:15.
"Aku harus menunggu sekitar setengah jam untuk menunggu video itu jadi. Terus aku harus ngapain? Mana laper lagi" batinku.
Sambil menunggu video itu jadi, aku mencari sesuatu dalam tas ku. Mataku berbinar saat menemukan coklat. Segera aku memakannya. Sambil mendengarkan musik barat favoritku. Cold play-hymn for weekend.
"Ah oah oah i'm feeling drug and high so high so high"
Terus begitu sampai setengah jam berlalu. Aku menyanyikan sambil mendengarkan musik-musik barat favoritku. Aku menghampiri kameraku. Menyelesaikan rekamanku. Melihat sekilas. Dan ternyata..
"Uwooow" aku memekik bahagia. Hasil sunrise pagi ini sangat memuaskan. Begitu memesona. Dan pastinya akan mendapat banyak like di instagram. Tentunya dengan caption terbaik yang sudah kusiapkan dari jauh-jauh hari.
Buru-buru aku memasukkan kamera dan peralatan kamera lainnya kedalam tas. Dan segera turun dari bukit itu. Tapi..
"Aaaaaa toloong" aku tergelincir saat hendak menuruni bukit. Jalanan masih licin. Aku tak sempat berhati-hati karena bahagia ku yang sudah sangat besar.
"Toloooooong" teriakku.
Aku tak bisa menghentikan badanku yang terus berguling. Sampai pada akhirnya..
JDUG "Aaaaw" kakiku tertahan oleh pohon. Pohon cengkeh. Batangnya sangat keras. Sehingga berhasil membuatku meringis kesakitan.
"Huhuhu, saakiiiiit" aku menangis. Memikirkan kamera ku yang pasti rusak karena ikut berguling bersamaku. Ditambah rasa sakit kakiku, juga badanku yang kotor. Aku menangis disana. Menangis terisak isak.
Dengan sisa tenaga yg ada, aku berjalan terpincang pincang menahan sakitnya kakiku. Juga menahan agar air mata tidak keluar. Sampailah aku di pekarangan rumah. Ibu yang sedang menjemur pakaian langsung menghampiriku saat melihat penampilanku yang semrawut. Baju kotor, rambut penuh dengan tanah, kaki yang berdiri tidak sempurna.
"Euleuh euleuh eneng teh kenapa?"
"Aku tidak menjawab. Hanya isakan yang keluar dari mulutku.
"Sok sekarang mah bersih-bersih dulu neng"
Ibu lalu menuntunku ke kamar mandi. Membantuku membersihkan rambut, wajah, tangan, dan kaki. Dari situ aku melihat kakiku biru. Lebam. Dan sangat sakit.
"Aduh ya allah. Ini kaki kamu meni biru. Abis ngapin atuh neneng teh?" tanya ibu saat melihat kakiku.
Aku mengelap air mata. Mencoba menjawab.
"Aku abis jatoh dari bukit. Jalannya licin. Kakiku terbentur pohon cengkeh"
"Aish, abis ngapain kamu ke bukit segala?"
"Abis ngambil video sunrise"
Ibuku tidak menjawab lagi. Ia masih membersihkan kakiku.
"Udah, sekarang kamu ganti baju. Terus duduk di kursi ruang keluarga. Ibu mau nyiapin kompresan"
Aku pun menuruti titahnya. Biarpun masih sangat sakit. Aku paksakan. Sampai aku benar benar duduk manis di kursi ruang keluarga. Melonjorkan kaki.
Ibu datang membawa 2 mangkok. Yang satu disimpan di dekat kaakiku. Yang satu lagi ia serahkan padaku. Mataku berbinar menerimanya. Bubur kacang hangat.
Ibu mulai mengompres kakiku. Aku meringis sesekali sambil menyendokkan bubur ke mulut.
"Lain kali, kalo mau ngapain hati hati. Eneng tau kan semalem hujan, jalanan licin" tutur ibu sambil mengompres kakiku.
"Iya bu" hanya itu yang keluar dari mulutku.
Hening seketika.
"Eneng tau sesuatu gak?
Aku menatapnya "Tau apa?"
"Ibu gak ridho tadi pagi neng berangkat. Belum solat subuh lagi. Mana keluarnya ga pake kerudung. Eneng teh udah baleg. Harus bisa gimana bertingkah yang baik"
Tidak ada jawaban dari mulutku. Aku bungkam. Yang dikatakan ibu sepenuhnya benar. Umurku sudah 19. Tapi tingkahku masih sama seperti dulu saat aku tidak tau apa-apa. Untuk sekedar menutup aurat saja masih jarang kulakukan. Solat masih bolong-bolong, mengaji pun hanya di malam jum'at.
Air mataku meleleh. Mungkin ini penyebab utamanya aku bisa terjatuh. Ibu tidak ridho kepadaku, karena aku tidak solat subuh. Sehingga allah menutup hatiku oleh rasa bahagia yang berlebih. Dan lupa tehadap jalan yang licin. Ridho Allah ada pada ridhilo orang tua.
Tangan yang sedikit kasar itu mengusap air mataku. Ia tersenyum.
"Katanya abis ngambil video sunrise ya?
Aku mengangguk.
"Mana video nya? "
"Di kamera. Kamera dan lensaku mungkin rusak karena ikut berguling bersamaku tadi" kataku sedih.
Ibu malah tertawa.
"Hahaa, neeng, neng. Biarpun kameranya rusak, videonya akan tetap ada kan? Ibu tau kamu memasukkan memori ke kamera itu.
Aku tersentak. "Oh iya" aku nyengir.
Ibu mengambil kameraku. Lensanya pecah. Aku mengeluarkan memorinya dan memasukannya ke hp ku. Dari hp ku, aku bisa mengedit video itu. Dari yang tadinya berdurasi setengah jam, aku percepat. Sehingga hanya berdurasi 10 detik.
"Udah ngeditnya?" tanya ibu membawakan segelas teh hangat.
"Udah nih bu. Liat deh bagus ga?"
Ibu melihat video itu dengan antusias.
"Masya Allah, bagus banget neng. Ciptaan Allah memang luar biasa tiada yang menandingi. Kamu harus bersyukur bisa mengambil videonya"
Aku menyeruput teh manis hangat. Enak sekali.
"Iya bu .alhamdulillah. Aku mau masukin video itu ke instagram"
"Bagus lah, apalagi kalo ditambah kalimat kebaikan"
Dahiku berkerut. Tapi aku segera mengetahui apa maksudnya.
"Siap bu" kataku sambil hormat.
"Hehe, aya aya wae si eneng. Yaudah, ibu mau ngelanjutin ngejemur yaa"
Aku mengangguk. Dan mulai proses upload di ig. Aku mengetikkan caption yang paling baik. Bukan caption yang telah disiapkan dari jauh-jauh hari. Melainkan caption yang sarat akan kebaikan.
Sunrise. Sinarmu adalah nikmat Allah agar kita mensyukuri segala kehendaknya.
Send.
Aku tersenyum menyeryput teh manis hangat. Caption singkat ini mungkin lebih baik dibanding caption uraian b.inggris yang telah kusiapkan dari jauh jauh hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar